Apa kita berakhir bahagia?

Dua tahun berlalu

Berumur 26 tahun dengan ambisi yang begitu banyak, maaf aku tidak bisa mengabulkan keinginanku dulu.

Aku tidak lulus tiga setengah tahun
Aku tidak menikah di 22 tahun
Aku tidak jadi karyawan tetap tempat kerja pertamaku
Aku tidak membeli rumah atas namaku sendiri
Aku tidak mengabulkan keinginanku ke Bali

Banyak hal yang merubahku, semua berubah.

Aku harus merasakan gagal dua kali memberikan judul skripsi ke dosen sampai badanku mengurus
Aku sibuk apply kerja saat mengerjakan skripsi
Aku terlalu sibuk kerja hingga kehilangan orang terkasihku

Aku lupa akan diriku

Keegoisan akan tujuan hidup membuat aku tidak memiliki siapa-siapa
Terlalu fokus hingga tidak melihat sekeliling
Rasa kehilangan akan seseorang itu masih terasa hingga kini

Aku masih menangis di tengah malamku
Ribuan tangisan dalam lima tahun ini

Aku kehilangan

Aku hanya bisa memeluk diriku yang dingin dan keras ini
Memaksa maju kedepan hingga memagnetkan yang sama kearahku

Mungkin semesta mengira aku kuat
Namun kuatnya aku pun kadang membuatku hilang arah
Berbagai macam pelampiasan dicoba dalam umurku yang menuju dewasa

Tidak ada penyesalan, kamus sesal tidak berlaku didiriku
Aku hilang arah kemana akan ku jalani
Aku bagai lupa akan suara hati kecilku itu

Mendambakan hangatnya hari-hari seperti dulu, saat aku dan kamu saling bertukar kabar dan pelukan
Seraya berpikir, kita saling beruntung dijalan masing-masing dan dosaku akan diriku terkenang
Membiarkan diriku terluka, tak terlihat memenuhi tubuh dan pikiranku

Bila kamu tahu dan kita melewati jembatan lima tahun lalu itu, apa kita sudah berakhir bahagia?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2024

GAK NGERTI

Leave him, you deserve better