Apa memang rasanya masih ada?
Si pematah hati, jadi siapa yang akan sial mendapatkan diri gue ini?
Kalau emang bisa gue memilih untuk nyakitin diri sendiri daripada orang lain, gue emang akan memilih untuk menyakiti orang lain.
Gue lebih menyayangi diri gue dari pada orang lain karena gue akan dengan diri gue sampai gue mati nanti.
Gue yang banyak kurangnya ini berandai-andai menemukan kesempurnaan yang bisa nemenin hidup gue selamanya. Bagaikan khayalan yang tidak bisa dijadikan kenyataan. Membuktikan bahwa sampai sekarang belum ada yang bisa menemani gue.
Gue ingin yang terbaik untuk diri ini, gue pun gak mau melakukan hal yang gue sendiri pun gak suka dan nyamanin. Entah apa yang harus gue pilih nanti, pastinya gue ingin gue bahagia.
Perihal untuk orang-orang yang telah gue sakitin, gue merasa itu adalah hak yang bisa gue ambil demi diri gue sendiri karena kalo gue tetep jalanin gue yang bakalan sakit hati.
Gue jadi berpikir kalo perasaan sakit itu masih ada berarti memang rasa ini betul-betul belum hilang sempurna dihati.
Kebencian-kebencian yang terpendam didalam lubuk hati mungkin memang harus seperti itu hingga nanti gue sibuk dengan kebahagiaan gue. gue bakal gak inget sama sekali gimana rasanya.
Kini, jalan pulang untuk siapapun sudah gue tutup dihati gue.
Tidak ada kata kembali dan pulang dalam kamus hidup gue.
Gue ingin hidup gue damai tanpa ada rasa tersiksa akan sakit hati yang membingungkan.
Aku hanya ingin merasakan bahagia saja hingga lupa bagaimana nangis yang membuat hati seakan jatuh dari tempatnya
Komentar
Posting Komentar